Idul Adha Kali Ini Saya Ber-Qurban Perasaan Saja…

17 Nov 2010

nampang dulu sebelum dipotong

nampang dulu sebelum dipotong

Tiga hari yang lalu saya jalan-jalan dengan seorang teman dekat rumah. Berboncengan pake motor Kirana butut saya. Tak ada tujuan yang jelas sebenarnya, hanya jalan-jalan saja keliling perkampungan. Karena mendekati Hari Raya Idul Adha, di sepanjang perjalanan banyak domba-domba dan sapi yang sengaja di parkir penjualnya di pinggir jalan menunggu pembeli. Tak heran, dari awal jalan saja sudah tercium aroma khas hewan kurban itu. Aroma apakah itu? :mrgreen: Bukan itu bahasannya, ” Lagian kaya ngga ada kerjaan aja bahas yang begituan hehehe…”

Di sepanjang perjalanan itu kami ngobrol ngaler-ngidul, tak ada pembicaraan yang fokus. Tapi pada akhirnya sampai juga pada obrolan soal Idul Adha. Teman saya bercerita bahwa tahun ini banyak teman-temannya ( sebagian teman saya juga ) yang akan berkurban. Dia menyebut beberapa nama teman saya semasa kecil. Jujur saja, dalam hati saya ada rasa sedih. Ada perasaan minder juga pada mereka. Sebab saya belum punya keleluasaan dan kemampuan untuk melaksanakan syariat ini seperti mereka. Walaupun pernah tapi itu dua tahun yang lalu. Tahun ini atau dua tahun ke belakang adalah tahun-tahun yang berat buat saya. Makanya saya hanya menjawab obrolan teman saya itu dengan ucapan syukur alhamdulillah saja buat mereka.

Dari obrolan itu, teman saya bertanya agak sedikit menyentil, ” Kamu ngga berkurban tahun ini? “. Buru-buru saya menjawab, ” Duh, belum ada rizkinya, untuk hidup sehari-hari saja Senen-Kemis “ Sambil mencoba bergurau. Malu juga menjawabnya, sambil pura-pura tersenyum padahal hati ini tak semanis senyum yang di umbar. ” Halah, kamu tidak punya niat saja !! “ tegas teman saya sambil menepuk pundak. Sungguh nyelekit kata-kata yang terakhir dari teman saya itu. Tadinya saya tak akan menjawabnya tapi mesti ada pembelaan diri juga biar dia mengerti keadaan saya saat ini. Saya katakan kepadanya bahwa bukanlah tidak ada niat sama sekali, tetapi kebetulan tahun ini Allah belum memberi rizki lebih buat saya. Sedang mereka mungkin ada kelebihan rizki selain dibarengi niat pula.

Memang susah ngobrol dengan orang yang tidak tahu keadaan diri kita dan lagi mudah men-judge orang lain seperti teman saya itu. Ingin rasanya berterus terang menceritakan apa adanya diri ini. Tetapi saya berprinsip tidaklah baik menceritakan kekurangan diri pada orang lain bila benar-benar sudah tidak ada cara lain untuk menutupinya. Bagi saya menjaga kehormatan dan harga diri lebih utama daripada menampakan segala kekurangan kita seperti kesusahan, penderitaan, kesedihan yang bertujuan menimbulkan rasa iba. Lagipula saya tak ingin terlihat seperti orang yang tampak rapuh di mata orang lain, saya ingin nampak tegar. Cukuplah saya, Allah dan orang-orang yang saya percayai saja yang tahu.

Kalaulah teman saya menganggap saya seorang yang mampu, pada akhirnya saya harus bersyukur juga ( dan berharap ini adalah sebuah doa ). Karena saya telah berhasil menjaga kehormatan diri ini hingga dia mempunyai pandangan itu terhadap saya. Tetapi untuk persangkaannya di atas tadi, saya bisa memahami dan memaklumi pula. Karena ini timbul dari keyakinannya atas pandangannya itu. Dan semoga saja Allah benar-benar memberi kemampuan kepada saya untuk tahun-tahun ke depan bisa berkurban seperti teman-teman saya yang lain ( Allahumma amien..).


TAGS iedul qurban perasaan


-

Author

Follow Me