Karena Cadel, Saya Memilih Berekspresi Lewat Blog Saja…

13 Jan 2011

shyboy1Terlahir dalam keadaan cacat literal atau cadel agak kurang mengenakkan. Tapi bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Bagaimanapun juga pastilah ada hikmah dari apa yang telah diberikanNya kepada saya. Hanya ada beberapa pengalaman masa kecil yang saat ini mempengaruhi kehidupan bersosialisasi saya dengan orang-orang sekitar.

Ketika kecil dulu, apapun yang saya katakan selalu jadi bahan tertawaan orang dewasa, juga teman-teman yang umurnya lebih tua dari saya. Karena ketika saya berbicara, akan terdengar janggal bagi mereka yang mempunyai lidah normal.
Terutama bila dalam kata-kata yang saya bicarakan itu mengandung huruf “R”. Anda pasti sudah tahu, bila orang cadel mengucapkan huruf “R” pasti akan terdengar lain di telinga anda bukan? :D Ya, huruf “R” akan terdengar menjadi huruf “L”.

Lucu memang. Sayapun terkadang suka senyum-senyum bila kebetulan ada anak yang cadel berbicara. Hanya saja saya tidak pernah memperlakukannya seperti mereka, teman-teman saya dan orang dewasa di tempat saya dulu, yang menjadikan saya sebuah bahan untuk lelucon mereka.

Dulu, seserius apapun saya berbicara kepada orang dewasa, jarang mendapatkan tanggapan yang serius dari mereka. Sebelum mereka menjawab, terkadang mereka meniru dengan mengulang apa yang saya ucapkan, diikuti dengan logat yang sengaja dibuat cadel. Lantas setelah itu mereka akan tertawa terbahak-bahak. Atau sebelum mereka menjawab, mereka akan menyuruh saya supaya mengucapkan sebuah kalimat yang sengaja dibuat penuh dengan huruf “R” nya. Salah satunya masih saya ingat kalimat yang harus saya eja itu dalam bahasa Sunda, yaitu ” Laleur mapay areuy “. Dalam ucapan saya kalimat itu menjadi ” Laleul mapay aleuy “ :D

Ada satu lagi yang membuat saya cukup tersiksa pada masa kecil dulu, yaitu di saat jam mata pelajaran kesenian. Ketika itu guru biasanya menyuruh satu persatu murid untuk maju ke depan menyanyikan sebuah lagu. Sungguh hal yang sangat saya benci bila harus menyanyi di depan kelas. Karena kembali saya akan menjadi bahan tertawaan murid-murid yang lain.

Sebelum mendapat giliran maju ke depan, saya akan berpikir sangat keras untuk mencari-cari lagu apa saja yang kira-kira durasinya pendek dan juga sedikit mengandung huruf “R” nya. Tujuannya jelas, supaya saya bisa cepat duduk kembali dan menghindar dari olok-olok teman sekelas.

Nah, begitulah sedikit cerita saya di masa kecil dulu dimana saya hidup di lingkungan yang orang-orangnya tidak bisa menghargai kekurangan orang lain. Untuk menjadi anak yang wajar dan nampak normal saya harus pilih-pilih teman. Atau terkadang lebih baik diam di rumah, bermain dengan saudara saja. Pada saat itu kebetulan sekali saya mempunyai seorang teman sebaya yang sama cadelnya dengan saya. Jadi saya tidak merasa cadel sendirian.

Mungkin tidak semua orang yang cadel mengalami “penganiayaan” secara psikis (bullying) di masa kecilnya seperti yang saya alami. Tetapi tidak menutup kemungkinan banyak juga yang mengalaminya. Hanya saja mungkin mereka tidak ngeblog seperti saya, jadi tidak ada yang mereka ceritakan :mrgreen: Atau mungkin mereka nrimo saja perlakuan itu dan menganggapnya hal biasa.

Menjadi bahan lelucon terus menerus di masa kecil ngefek juga setelah saya dewasa. Saya menjadi seorang yang pendiam, pemalu dan sedikit menutup diri (introvert). Saya tidak suka banyak bicara, lebih senang menjadi pendengar yang baik daripada harus berlaku bak seorangorator. Mencoba merubah semua ini ternyata sangat sulit.

Satu ketika saya harus berbicara di depan umum, owh deg-degannya minta ampun. Tangan ini basah oleh keringat dingin. Apa yang telah dihafal hilang begitu saja dan akhirnya saya hanya terdiam tanpa mampu berkata-kata. Kalau mengenang kejadian itu saya suka tertawa sendiri. Memalukan sekali :mrgreen:

Trauma masa kecil ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Sehingga semenjak remaja sampai dewasa saat ini saya tidak suka ikut-ikutan masuk organisasi baik itu di sekolah maupun di lingkungan tempat saya tinggal. Kalaupun terpaksa, saya lebih memilih menjadi seksi umum saja atau apalah yang penting bukan yang mengharuskan saya menjadi pembicara. Anda tahu sendiri bukan? bagaimana berorganisasi itu. Ya, untuk masuk dalam organisasi itu biasanya dituntut cakap dalam berbicara atau mempunyai kemampuan berargumen yang baik, utamanya secara lisan.

Karena ketidakmampuan itu, saya tahu diri. Saya lebih senang menyalurkan apa yang ada di benak saya melalui sebuah tulisan. Karena ketidakmampuan itu juga akhirnya saya lebih senang menulis diary. Dan ketika weblog mulai ngetrend dan booming di Indonesia, (kalau tidak salah awal 2008 berbarengan dengan mulai murahnya akses internet) saya seperti menemukan kehidupan kembali. Inilah sesuatu yang sangat saya idam-idamkan. Saya merasa ngeblog akan menjadi nafas baru saya yang sesungguhnya. Walaupun pada saat itu saya belum tahu bagaimana memulainya.

Menurut saya tidaklah berlebihan apa yang saya ungkapkan di atas, karena tau sendiri dong! ketika kebebasan ekspresi saya tersendat karena trauma masa lalu, dan ngeblog adalah tempat yang cocok untuk menyalurkan ekspresi itu. Adalah hal yang wajar apabila saya mengatakan bahwa ngeblog adalah nafas baru saya. Karena dengan ngeblog sedikit demi sedikit rasa percaya diri saya mulai tumbuh. Karena dengan ngeblog pula keberadaan saya lebih bisa diterima walau hanya di duniamaya. Satu hal lagi, dengan ngeblog saya bisa berbagi apa saja.

Terakhir, karena saya sudah bercerita cukup panjang, saya berharap ada dari teman-teman blogger yang mau berbagi cerita disini. Kali aja ada pengalaman yang hampir sama, atau malah lebih pahit dari saya? hohoho :D bakalan seru deh nyimaknya…, Ayo dong cerita, berbagi tak pernah rugi lho? :)


TAGS blog cacat literal cadel bullying masa kecil


-

Author

Follow Me