Berhenti Bekerja Gara-Gara Seekor Kucing

20 Nov 2013

foto koleksi bamrunoIni cerita lama, kejadiannya sekitar tahun 2003. Penasaran kenapa saya memutuskan berhenti bekerja gara-gara seekor kucing? Begini ceritanya, saya adalah seorang penyayang binatang (lebih tepatnya orang yang ngga tega’an). Tidak hanya kucing saja, hampir semua binatang kecuali nyamuk dan kecoa hehe… itupun kalau saya terpaksa harus membunuh keduanya, terlebih dahulu saya akan mengucap, “Maaf ” lalu kemudian “Plak!!” mati deh… :)

Saya teruskan kembali, suatu pagi seperti biasa, sebelum memulai kerja saya beres-beres ruangan sisa aktifitas kerja kemarin. Maklum, sebagai seorang pekerja seni (dulu), ruangan kerjanya tidak pernah rapi. Jadi biar agak leluasa dalam bekerja, saya rapikan dikitlah.

Pagi itu suasana masih hening. Lalu tiba-tiba saya mulai mendengar suara lirih seperti sebuah tangisan. “Meow, meow, meoow..” Terdengar ditelinga saya koq seperti suara bayi. Mungkin hati saya terlalu sensitif kali ya :) Saat itu perasaan jadi mulai terganggu. Pikiran pun juga demikian.

Sambil terus beres-beres, saya mencoba mencari sumber suara anak kucing itu. Suara terdengar lebih kuat ketika saya mendekati jendela ruang kerja. Kebetulan ruang kerja saya berada di lantai dua. Tapi, dimana anak kucing malang itu berada?. Karena jendela menggunakan teralis, saya tak bisa melihat keluar. Salahsatu cara, saya harus naik ke lantai tiga gedung supaya bisa melihat keberadaan kucing itu.

Benar saja, ternyata anak kucing itu berada di lantai dasar, tetapi diluar gedung tempat saya kerja. Dan yang membuat saya sedih, kucing itu terjebak di sebuah lorong sempit, disela-sela antara gedung tempat saya kerja dengan gedung kantor sebelah. Saya lihat dari atas kayaknya tidak ada akses jalan keluar. Tapi bagaimana kucing itu bisa terjebak disitu? Terjatuhkah dari lantai atas? Rasanya tidak mungkin. Karena kucing sekecil itu belum punya kemampuan dan belum cukup berani bermain diatas gedung.

Sambil mikir-mikir bagaimana saya bisa menolong anak kucing yang malang tersebut, saya mencoba mencari tahu bagaimana si kucing bisa terjebak disitu. Nanya-nanya ke pekerja lain akhirnya dapat info juga dari seorang Office Boy. Dia bilang, kucing itu dibuang seorang Chef yang merasa terganggu pekerjaannya oleh si anak kucing itu. Di bawah ruang kerja saya kebetulan adalah sebuah dapur restauran. Rupanya si anak kucing ini masuk ke dapur yang mestinya steril dari kucing. Dan si Chef ini langsung membuang anak kucing ini lewat jendela ventilasi yang kebetulan pula disitulah lorong sempit tanpa akses keluar itu berada.

Terus berpikir bagaimana menyelamatkan anak kucing ini, satu hari terlewati. Esok harinya mulai mencoba mencari kayu panjang. Tidak begitu susah mendapatkannya karena di tempat kerja profesi tukang kayu pun ada. Tinggal minta, tapi kayu yang didapat kurang panjang. Akhirnya diakali dengan menyambung dua buah kayu. Kira-kira delapan meter panjangnya. Rasanya masih kurang panjang juga. Tak apalah, usaha sudah maksimal.

Saya bawa kayu panjang itu ke ruang kerja. Di jendela, saya julurkan dengan hati-hati lalu menjatuhkannya dengan posisi miring menyandar ke tembok. Dengan posisi seperti itu berharap si anak kucing ini bisa naik ke atas. Pada jam-jam berikutnya seperti biasa saya melakukan rutinitas kerja. Dan suara ‘tangisan’ itu masih terus saja mengusik perasaan saya. Hari-hari pun dijalani tanpa lepas dari memikirkan si kucing malang itu. Usaha tidak berbuah hasil. Si anak kucing tak jua naik meniti ‘tangga darurat’ yang telah saya buat.

Sementara waktu terus berlalu, tak terasa sudah hampir satu minggu. Suara ‘tangisan’ si kucing malang itu masih terdengar menggelegar di telinga saya. Suara ‘Meoow’ nya benar-benar merusak konsentrasi kerja saya. Hari demi hari tak lepas hanya memikirkan si kucing malang itu. Dalam satu minggu ini pun jatah makan siang sudah terbagi. Saya hanya makan nasi dan sayurnya saja, sementara lauknya adalah jatah si kucing malang tersebut. Tak apalah berbagi, yang penting si kucing itu bisa bertahan hidup.

Ada cerita yang tertinggal, dan kejadian ini bikin panik para teknisi di tempat saya kerja. Pada saat memberi makan kucing malang itu, hari-hari pertama lauknya hanya di lempar saja ke bawah melalui jendela dari ruang kerja. Dirasa tidak efektif, maka digantilah dengan cara mengikatkan mangkuk kecil dengan tali yang panjang, layaknya seperti timbaan air lalu diulurkan ke bawah. Biar talinya tidak jatuh, saya ikatkan ke teralis.

Seperti biasa, pada saat jam istirahat saya ambil jatah makan siang dan saya sisihkan lauknya untuk si kucing. Lalu saya simpan di mangkuk kemudian mulailah meng-ulurkan mangkuk itu ke bawah lewat jendela. Pada saat meng-ulurkan mangkuk itu tiba-tiba tali yang saya pegang seperti ada yang menarik dari bawah sangat kuat disertai suara gemuruh seperti mesin pemotong rumput. Karena kaget, tali pun terlepas dari tangan, untungnya tali masih terikat di teralis jendela. Saking kuatnya tarikan, akhirnya tali pun terputus.

Masih belum ngeh dengan kejadian itu, pikiran pun menebak-nebak mesin apakah gerangan di bawah sana. Ada rasa deg-degan juga karena takut terjadi apa-apa. Tapi saya berusaha untuk tenang dan lalu kembali meneruskan makan siang.

Satu jam kemudian, mulailah apa yang saya takutkan itu datang. Ada keributan kecil dibawah sana. Tepatnya di kitchen restauran (semua pekerja terbiasa menyebutnya kitchen, bukan dapur). Lalu tiba-tiba dua orang teknisi gedung naik keatas dan masuk ke ruang kerja saya. Nampak diwajahnya ada raut kemarahan tapi berusaha untuk tidak dinampakkan. Mungkin juga karena ada perasaan segan.

Mereka mulai menceritakan permasalahannya. Bahwa ada sebuah mangkuk plastik beserta tali tersangkut di blower ruang pendingin penyimpanan daging ( orang-orang kitchen menyebutnya kulkas besar ). Sehingga menyebabkan blower itu macet dan mesinnya menjadi panas. Untungnya cepat diketahui, jika tidak, bisa menyebabkan kerusakan mesin didalamnya. Bak interogasi, mereka pun menanyakan apakah benar saya adalah pelakunya. Tanpa ba-bi-bu saya pun langsung mengakuinya dan menceritakan semua kronologi lalu tak lupa diakhiri dengan permintaan maaf tentunya.

Setelah kejadian itu saya tidak bisa memberi makan si kucing dengan mangkuk yang diikat tali. Karena saya tidak ingin kejadian serupa terulang lagi. Akhirnya kembali pada cara lama, yaitu dengan cara menjatuhkan makanan langsung ke bawah.

Hari-hari berlalu, lebih dua minggu terlewati. Musim penghujan pun datang menghampiri. Terbayang dalam pikiran, apakah si kucing malang ini mampu terus bertahan dalam keadaan seperti ini. Tak ada tempat berteduh, tak ada selimut penghangat tubuh. Saya berharap Tuhan berkehendak lain dan memberinya jalan keluarnya. Apakah itu dengan sebuah keajaiban atau pilihan terbaik menurut Tuhan yaitu sebuah kematian. Ya, saya pun berpikir demikian. Mungkin kematian adalah jalan yang terbaik.

Karena terus-menerus dihantui perasaan gundah, akhirnya saya memutuskan untuk meminta ijin cuti satu minggu. Saya ingin terlepas dari bayang-bayang penderitaan si kucing malang itu. Mungkin di rumah saya bisa lebih tenang, melupakan sejenak masalah yang ada. Soal kucing? Saya serahkan pada yang Di Atas Sana. Soal makannya gimana? Biarlah Tuhan yang mengurusi. Karena Dia yang menciptakan, Dia pula yang memberi rejeki.

Satu hari masa cuti, hati yang gundah sedikit terobati. Hari itu saya lebih tenang, karena tidak terdengar suara ‘tangisan’ yang mengiang. Hari kedua masa tenang tak bertahan lama. Timbul kekhawatiran, siapa yang akan memberi makan? Walaupun sudah menyerahkannya pada Tuhan. Hati ini tetap saja tidak tahan, disini saya merasa nyaman, tapi bagaimana keadaan disana?

Pada hari kedua masa cuti itu saya pergi juga ke tempat kerja. Tujuannya hanya sekedar memberi makan saja. Lalu kembali ke rumah dengan sedikit membawa perasaan bersalah. Ah, ternyata masa cuti itu tak mampu mengobati rasa gundah. Pikiran ini tetap saja tak bisa lepas dari bayang-bayang penderitaan si kucing itu. Hati ini tak mampu lagi berpasrah.

Hari ketiga, ke-empat dan seterusnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hari ketujuh, hari berakhirnya masa cuti. Tapi diri ini tak siap menyongsong untuk bekerja kembali esok hari. Rasa malas itu terus menggelayuti. Karena besok sudah pasti akan disambut dengan ‘tangisan’ si anak kucing itu kembali. Suara ‘Meow’ nya sudah benar-benar menghujam ke dalam sanubari. Saya tak ingin mendengarnya lagi, sungguh saya tersiksa dengan keadaan ini.

Masa cuti berakhir sudah, mestinya hati ini sudah terbebas dari rasa gundah. Nyatanya tidak, hari itu saya memutuskan untuk bolos kerja. Satu minggu rasanya tak cukup. Saya butuh waktu lebih dari itu. Mungkin dua atau tiga minggu? Terbesit juga untuk menambah masa cuti satu minggu lagi. Tapi rasanya tidak mungkin, karena boss pasti takkan memberi ijin. Ya sudahlah bolos saja.

Satu hari, dua hari….. Satu minggu!!. Akhirnya bablas juga bolos satu minggu. Dari tempat kerja bagian personalia sudah terus-terusan menelpon ke rumah. Tak pernah saya angkat. Lalu mengirim orang untuk menemui saya di rumah. Kebetulan pada saat itu saya sedang tidak ada di rumah. Dalam kurun waktu satu minggu itu, saya dihadapkan pada sebuah dilema. Antara tetap memilih terus bekerja atau keluar saja. Harus dipikirkan masak-masak. Ah ternyata tekad saya sudah bulat. Saya ingin berhenti bekerja.

Selama menambah masa cuti dadakan itu, hidup terasa lebih tenang. Saya benar-benar merasa bahagia, bebas merdeka dari pikiran-pikiran yang menyiksa. Pada akhirnya saya memberanikan diri menelepon balik. Saya katakan dengan mantap, mulai hari ini saya berhenti bekerja, saya mengundurkan diri. Dari ujung telepon, menanyakan alasan saya mengundurkan diri. Saya tidak menyebut alasan sebenarnya. Karena dirasa mereka takkan percaya. Lagipula saya malu jika harus mengungkap alasan sebenarnya. Pasti dianggap tidak masuk di akal. Tapi memang begitulah kenyataannya.

Saya tidak sanggup jika masuk kerja nanti, saya akan mendengar ‘tangisan’ itu kembali. Batin saya pasti tersiksa, tak mungkin bisa berkonsentrasi dalam kerja. Saya merasa gagal dan tak mampu menyelamatkannya. Pada akhirnya saya pasrahkan nasib si kucing itu pada Sang Maha Kuasa, pada Sang Maha Penjaga. Biarkan Dia mengatur segala Kehendak-Nya. Kalaupun kucing itu harus mati, ya mati saja. Saya hanya tak sanggup menyaksikan detik-detik kematiannya, itu saja.

Satu bulan setelah saya menyatakan berhenti bekerja, saya menyempatkan mengunjungi tempat kerja sekalian mengurus segala administrasi yang belum selesai. Tak lupa pula menyempatkan singgah di ruangan tempat kerja saya dulu. Sempat menengok ke luar jendela, masih berharap ada keajaiban. Tapi tak sedikitpun terdengar suara ‘tangisan’.

Rindu? Tentu saja. Bagaimana tidak, selama tiga minggu berjibaku serasa senasib sepenanggungan dalam kesusahan. Pada akhirnya saya harus pasrahkan juga pada Sang Maha Segalanya.

Sepeninggal saya mungkin Tuhan langsung memanggilnya, tidak lama. Cukupkan sekian segala deritanya. Berlanjut di kehidupan yang lebih kekal dan lebih sempurna. Disana, nun jauh diatas sana takkan ada lagi yang berani mencampakkannya. Karena kini dia telah disamping-Nya. Bahagia bersama Sang Pemilik Jiwa.


TAGS kisah nyata kucing penyayang binatang berhenti bekerja


-

Author

Follow Me